Selasa, 05 September 2017

Belajar Dari Penjual Gerobak Angkringan




Pada awalnya tulisan ini hendak menyoroti fenomena UMKM di Indonesia. Namun akhirnya kami kaitkan dengan situasi ekonomi akhir-akhir ini jadi kami tulis dengan mengorkestrasikan banyak hal. Bahwa situasi ekonomi Indonesia akhir-akhir ini yang semakin sulit tidak bisa dibohongi. 


jual gerobak angkringan


Hal ini dimulai dari orientasi ekonomi negara kita yang fokus pada inftrastruktur atau pembangunan fisik semata. Pembangunan jalan, pabrik, dan industri yang gencar-gencaran sangat bisa dirasakan oleh kita. Sebenarnya membangun infrastruktur boleh-boleh saja. Misalnya membangun jalan-jalan sebagai akses utama masyarakat. Begitu juga pembangunan sektor industri. Tetapi itu semua perlu perencanaan yang baik. Bagaimana kondisi APBN kita? Siapkah masyarakat kita?

Kita bisa lihat salah satu contoh kemerosotan ekonomi adalah sektor properti. Banyak gedung-gedung besar di kota seperti Jakarta tidak Sementara menurut BI selama ini sektor properti ini menjadi salah satu pendorong perekonomian nasional. Lantas bagaimana jika properti mengalami perlambatan?

Begitu juga pembangunan infrastruktur yang dipaksakan akan menemukan kendala pada pendanaan. Ada dua cara untuk menanggulanginya. Satu, hutang luar negeri. Dua, pajak progresif. Kedua-duanya tengah menjadi sorotan. Jika pemerintah sering membuka investasi, hutang luar negeri secara besar-besaran itu bukti bahwa negara kita tengah berupaya menyeimbangkan prioritas infrastruktur dengan finansial. Begitu juga pajak. Beberapa bulan lalu tarif listrik naik yang memicu banyak penolakan. Konon UMKM sedang diseleksi pemerintah untuk pengetatan pajak. 

jual gerobak angkringan


Bagaimana dengan Sektor UMKM?

Saat ini situasi ini belum begitu menggoyang UMKM. Namun, bagi masyarakat sendiri situasi ini memang berpotensi mengkhawatirkan. Terutama soal pajak karena itu akan menghambat. Tetapi mereka tetap pandai menyiasati situasi ini.

Perlu diberi catatan bahwa ekonomi UMKM menjadi penolong ketika krisis global di tahun 2008. Sektor domestik di mana hal itu digawangi oleh pada pedagang di pasar, perajin di daerah-daerah, pelaku bisnis kuliner skala kecil. Meminjam istilah Bung Karno: sahabat-sahabat tukang becak, tukang sayur. Sektor ini tidak memiliki ketergantungan pada pembangunan berskala nasional.

Salah satunya adalah para perajin gerobak angkringan. Mereka memiliki cara dan strategi yang cukup baik untuk jual gerobak angkringan hasil produksi mereka. Sama seperti UMKM lainnya, modal yang mereka keluarkan pada dasarnya tidak terlalu banyak.

Strategi yang mereka tempuh juga bisa dibilang bagus. Mereka tak mengandalkan bantuan dari pemerintah khususnya promosi. Saat ini mereka bisa memproduksi dan memasarkan secara mandiri. Dengan bantuan media online mereka bisa memasarkan ke manapun. Baik website, blog atau media sosial yang mereka gunakan bisa membantu secara optimal. Bahkan dari situ bisa mengembangkan bisnis gerobak lain seperti gerobak usaha bakso, mie ayam, dll. Banyak contoh lain yang tak bisa disebutkan satu persatu. Intinya bahwa masyarakat kita tak mengandalkan seutuhnya peran dan bantuan manapun.

Situasi ini sudah berlangsung cukup lama dan menjadi paradoks yang belum terselesaikan. Dari pemilu ke pemilu janji-janji memperbaiki UMKM menggelembung tetapi realisasinya sulit dicapai. Dalam program nawacita ada point menarik yang bisa kita jadikan pijakan UMKM. Yakni point ke tujuh: mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Karena itu, melalui artikel kecil ini kami ingin memberi pesan singkat bahwa ekonomi kecil harus diberi kepercayaan. Tidak saja sekadar kepercayaan tetapi juga dilindungi. Petani, pedagang, perajin, buruh dan lain sebagainya harus dijamin dari sisi hukumnya. Mereka selama ini terbukti menjadi penolong di saat krisis negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar